Setiap agama apapun, negara apapun, dan ras manapun pasti tidak menginginkan dan menghendaki suatu perpecahan yang diakibatkan dari sebuah kesalahpahaman yang berbuntut pada kekerasan yang anarkis. Dewasa ini di bumi kita tercinta ini, banyak sekali kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Contohnya di Mesir, Tunisia, dan Indonesia. Di Mesir kerusuhan yang berbumbu kekerasan terjadi karena rakyat Mesir memaksa dan menggugat Presiden Negara mereka Hosni Mubarak untuk melepaskan jabatan yang telah diembannya selama kurang lebih tiga dekade, waktu yang relatif sama dengan tahta Alm. mantan Presiden Indonesia Soeharto. Rakyat Mesir melakukan demo serta protes besar-besaran dan menginginkan suatu revolusi yang dapat merubah situasi Mesir ke arah yang lebih baik lagi. Sifat otoriter dan kediktatoran dari Hosni Mubarak membuat rakyat Mesir sudah tak tahan lagi dengan sikap pemimpinnya itu. Selain itu, di akhir masa jabatannya Mubarak pun tetap ingin menanamkan pengaruh kekuasaannya dengan menyerahkan tahtanya kepada putranya(w lupa namanya XD),tentunya rencana ini ditolak keras oleh para demonstran yang menginginkan perubahan. Namun, keinginan untuk berrevolusi seharusnya tidak dibarengi dengan aksi anarkis seperti merusak fasilitas umum sampai menyakiti sesama, karena Mesir yang dikenal dengan keramahannya dengan warisan budaya yang hebat dan tambang minyak terbesar, seharusnya tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti itu.
Baru-baru ini juga di Indonesia, tepatnya di Pandeglang provinsi Banten dan Temanggung, Jawa Tengah. Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah yang diwarnai aksi pembakaran kediaman jemaah tersebut, dan juga pengrusakan tempat ibadahnya, yang berbuah dengan tewasnya tiga jemaah Ahmadiyah. Konflik seperti ini apakah mesti terjadi di tanah air yang katanya Bhineka Tunggal Ika dan menjunjung tinggi persatuan, dan terkenal dengan Bangsa yang ramah yang memiliki rasa toleransi yang tinggi ???
to be continue...
#capeee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar